Senin, 30 Januari 2012

BAHAYA GHIBAH


Islam merupakan agama sempurna yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepada umat Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam. Kesempurnaan Islam ini menunjukkan bahwa syariat yang dibawa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam itu adalah rahmatal lil’alamin. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengkhabarkan di dalam firman-Nya (artinya): “Tidaklah Aku mengutusmu melainkan sebagai rahmatal lil’alamin.” (Al Anbiya’: 107)

Diantara wujud kesempurnaan agama Islam sebagai rahmatal lil’alamin, adalah Islam benar-benar agama yang dapat menjaga, memelihara dan menjunjung tinggi kehormatan, harga diri, harkat dan martabat manusia secara adil dan sempurna. Kehormatan dan harga diri merupakan perkara yang prinsipil bagi setiap manusia.

Setiap orang pasti berusaha untuk menjaga dan mengangkat harkat dan martabatnya. Ia tidak rela untuk disingkap aib-aibnya atau pun dibeberkan kejelekannya. Karena hal ini dapat menjatuhkan dan merusak harkat dan martabatnya di hadapan orang lain.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِم حَرَامٌ دَمُهُ وَ عِرْضُهُ وَ مَالُهُ

“Setiap muslim terhadap muslim lainnya diharamakan darahnya, kehormatannya, dan juga hartanya.” (H.R Muslim no. 2564)

Hadits di atas menjelaskan tentang eratnya hubungan persaudaraan dan kasih sayang sesama muslim. Bahwa setiap muslim diharamkan menumpahkan darah (membunuh) dan merampas harta saudaranya seiman. Demikian pula setiap muslim diharamkan melakukan perbuatan yang dapat menjatuhkan, meremehkan, atau pun merusak kehormatan saudaranya seiman. Karena tidak ada seorang pun yang sempurna dan ma’shum (terjaga dari kesalahan) kecuali para Nabi dan Rasul. Sebaliknya selain para Nabi dan Rasul termasuk kita tidak lepas dari kekurangan dan kelemahan.

Suatu fenomena yang lumrah terjadi di masyarakat kita dan cenderung disepelekan, padahal akibatnya cukup besar dan membahayakan, yaitu ghibah (menggunjing). Karena dengan perbuatan ini akan tersingkap dan tersebar aib seseorang, yang akan menjatuhkan dan merusak harkat dan martabatnya.

Tahukah anda apa itu ghibah? Sesungguhnya kata ini tidak asing lagi bagi kita. Ghibah ini erat kaitannya dengan perbuatan lisan, sehingga sering terjadi dan terkadang di luar kesadaran.

Ghibah adalah menyebutkan, membuka, dan membongkar aib saudaranya dengan maksud jelek. Al Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Apakah kalian mengetahui apa itu ghibah? Para shahabat berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Kemudian beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ، إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Engkau menyebutkan sesuatu yang ada pada saudaramu yang dia membecinya, jika yang engkau sebutkan tadi benar-benar ada pada saudaramu sungguh engkau telah berbuat ghibah, sedangkan jika itu tidak benar maka engkau telah membuat kedustaan atasnya.”

Di dalam Al Qur’anul Karim Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat mencela perbuatan ghibah, sebagaimana firman-Nya (artinya):

“Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kalian menggunjing (ghibah) kepada sebagian yang lainnya. Apakah kalian suka salah seorang diantara kalian memakan daging saudaramu yang sudah mati? Maka tentulah kalian membencinya. Dan bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat dan Maha Pengasih.” (Al Hujurat: 12)

Al Imam Ibnu Katsir Asy Syafi’i berkata dalam tafsirnya: “Sungguh telah disebutkan (dalam beberapa hadits) tentang ghibah dalam konteks celaan yang menghinakan. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyerupakan orang yang berbuat ghibah seperti orang yang memakan bangkai saudaranya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala … (pada ayat di atas). Tentunya itu perkara yang kalian benci dalam tabi’at, demikian pula hal itu dibenci dalam syari’at. Sesungguhnya ancamannya lebih dahsyat dari permisalan itu, karena ayat ini sebagai peringatan agar menjauh/lari (dari perbuatan yang kotor ini -pent). ” (Lihat Mishbahul Munir)

Suatu hari Aisyah radhiyallahu’anha pernah berkata kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam tentang Shafiyyah bahwa dia adalah wanita yang pendek. Maka beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَو مُزِجَتْ بِمَاءِ البَحْرِ لَمَزَجَتْهُ

“Sungguh engkau telah berkata dengan suatu kalimat yang kalau seandainya dicampur dengan air laut niscaya akan merubah air laut itu.” (H.R. Abu Dawud 4875 dan lainnya)

Asy Syaikh Salim bin Ied Al Hilali berkata: “Dapat merubah rasa dan aroma air laut, disebabkan betapa busuk dan kotornya perbutan ghibah. Hal ini menunjukkan suatu peringatan keras dari perbuatan tersebut.” (Lihat Bahjatun Nazhirin Syarah Riyadhush Shalihin 3/25)

Sekedar menggambarkan bentuk tubuh seseorang saja sudah mendapat teguran keras dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, lalu bagaimana dengan menyebutkan sesuatu yang lebih keji dari itu?
Dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

لَمَّا عُرِجَ بِي مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمِشُوْنَ وُجُوْهَهُمْ وَصُدُوْرَهُمْ ، فَقُلْتُ مَنْ هؤُلاَءِ يَاجِبْرِيْلُ؟ قَالَ : هؤُلاَءِ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ لُحُوْمَ النَّاسِ وَيَقَعُوْنَ فِي أَعْرَاضِهِمْ

“Ketika aku mi’raj (naik di langit), aku melewati suatu kaum yang kuku-kukunya dari tembaga dalam keadaan mencakar wajah-wajah dan dada-dadanya. Lalu aku bertanya: “Siapakah mereka itu wahai malaikat Jibril?” Malaikat Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan merusak kehormatannya.” (H.R. Abu Dawud no. 4878 dan lainnya)

Yang dimaksud dengan ‘memakan daging-daging manusia’ dalam hadits ini adalah berbuat ghibah (menggunjing), sebagaimana permisalan pada surat Al Hujurat ayat: 12.

Dari shahabat Ibnu Umar radhiyallahu’anhu, bahwa beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانَهِ وَلَمْ يَفْضِ الإِيْمَانُ إِلَى قَلْبِهِ لاَ تُؤْذُوا المُسْلِمِيْنَ وَلاَ تُعَيِّرُوا وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ يَتَّبِعْ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَّبَعَ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبَعِ اللهُ يَفْضَحْهُ لَهُ وَلَو في جَوْفِ رَحْلِهِ

“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya yang belum sampai ke dalam hatinya, janganlah kalian mengganggu kaum muslimin, janganlah kalian menjelek-jelekkannya, janganlah kalian mencari-cari aibnya. Barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim niscaya Allah akan mencari aibnya. Barang siapa yang Allah mencari aibnya niscaya Allah akan menyingkapnya walaupun di dalam rumahnya.” (H.R. At Tirmidzi dan lainnya)

Dari shahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Suatu ketika kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mencium bau bangkai yang busuk. Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam berkata: ‘Apakah kalian tahu bau apa ini? (Ketahuilah) bau busuk ini berasal dari orang-orang yang berbuat ghibah.” (H.R. Ahmad 3/351)

Dari shahabat Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

?إِنَّ مِنْ أَرْبَى الرِّبَا الإِسْتِطَالةَ فِي عِرْضِ المُسْلِمِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَفِي رِوَايَة : مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ

“Sesungguhnya termasuk riba yang paling besar (dalam riwayat lain: termasuk dari sebesar besarnya dosa besar) adalah memperpanjang dalam membeberkan aib saudaranya muslim tanpa alasan yang benar.” (H.R. Abu Dawud no. 4866-4967)

Dari ancaman yang terkandung dalam ayat dan hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa perbuatan ghibah ini termasuk perbuatan dosa besar, yang seharusnya setiap muslim untuk selalu berusaha menghindar dan menjauh dari perbuatan tersebut.

Asy Syaikh Al Qahthani dalam kitab Nuniyyah hal. 39 berkata:

لاَتُشْغِلَنَّ بِعَيْبِ غَيْرِكَ غَافِلاً
عَنْ عَيْبِ نَفْسِكَ إِنَّهُ عَيْبَانِ

Janganlah kamu tersibukkan dengan aib orang lain, justru kamu lalai
Dengan aib yang ada pada dirimu, sesungguhnya itu dua keaiban
(Lihat Nashihati linnisaa’ hal. 32)

Maksudnya, bila anda menyibukkan dengan aib orang lain maka hal itu merupakan aib bagimu karena kamu telah terjatuh dalam kemaksiatan. Sedangkan bila anda lalai dari mengoreksi aib pada dirimu sendiri itu juga merupakan aib bagimu. Karena secara tidak langsung kamu merasa sebagai orang yang sempurna. Padahal tidak ada manusia yang sempurna dan ma’shum kecuali para Nabi dan Rasul.

Konteks dalam hadits:

ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ

“Engkau menyebutkan sesuatu pada saudaramu yang dia membecinya.”

Hadits di atas secara zhahir mengandung makna yang umum, yaitu mencakup penyebutan aib dihadapan orang tersebut atau diluar sepengetahuannya. Namun Al Hafizh Ibnu Hajar menguatkan bahwa ghibah ini khusus di luar sepengetahuannya, sebagaimana asal kata ghibah (yaitu dari kata ghaib yang artinya tersembunyi-pent) yang ditegaskan oleh ahli bahasa. Kemudia Al Hafizh berkata: “Tentunya membeberkan aib di dahapannya itu merupakan perbuatan yang haram, tapi hal itu termasuk perbuatan mencela dan menghina.” (Fathul Bari 10/470 dan Subulus Salam hadits no. 1583, lihat Nashihati linnisaa’ hal. 29)

Demikian pula bagi siapa yang mendengar dan ridha dengan perbuatan ghibah maka hal tersebut juga dilarang. Semestinya dia tidak ridha melihat saudaranya dibeberkan aibnya.
Dari shahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

مَنْ رَدَّ عِرْضَ أَخِيْهِ رَدَّ اللهُ عَنْ وَجْهِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang mencegah terbukanya aib saudaranya niscaya Allah akan mencegah wajahnya dari api neraka pada hari kiamat nanti.” (H.R. At Tirmidzi no. 1931 dan lainnya)

Demikian juga semestinya ia tidak ridha melihat saudaranya terjatuh dalam kemaksiatan yaitu berbuat ghibah. Semestinya ia menasehatinya, bukan justru ikut larut dalam perbuatan tersebut. Kalau sekiranya ia tidak mampu menasehati atau mencegahnya dengan cara yang baik, maka hendaknya ia pergi dan menghindar darinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (artinya):

“Dan orang-orang yang beriman itu bila¬ mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling darinya, dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, semoga kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.” (Al Qashash: 55)

Dari shahabat Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ وَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ وَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذالكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ

“Barang siapa yang melihat kemungkaran hendaknya dia mengingkarinya dengan tangan. Bila ia tidak mampu maka cegahlah dengan lisannya. Bila ia tidak mampu maka cegahlah dengan hatinya, yang demikian ini selemah-lemahnya iman.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Namun bila ia ikut larut dalam perbuatan ghibah ini berarti ia pun ridha terhadap kemaksiatan, tentunya hal ini pun dilarang dalam agama.

Lalu bagaimana cara bertaubat dari perbuatan ghibah? Apakah wajib baginya untuk memberi tahu kepada yang dighibahi? Sebagian para ulama’ berpendapat wajib baginya untuk memberi tahu kepadanya dan meminta ma’af darinya. Pendapat ini ada sisi benarnya jika dikaitkan dengan hak seorang manusia. Misalnya mengambil harta orang lain tanpa alasan yang benar maka dia pun wajib mengembalikannya. Tetapi dari sisi lain, justru bila ia memberi tahu kepada yang dighibahi dikhawatirkan akan terjadi mudharat yang lebih besar. Bisa jadi orang yang dighibahi itu justru marah yang bisa meruncing pada percekcokan dan bahkan perkelahian. Oleh karena itu sebagian para ulama lainnya berpendapat tidak perlu ia memberi tahukan kepada yang dighibahi tapi wajib baginya beristighfar (memohan ampunan) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyebutkan kebaikan-kebaikan orang yang dighibahi itu di tempat-tempat yang pernah ia berbuat ghibah kepadanya. Insyaallah pendapat terakhir lebih mendekati kebenaran. (Lihat Nashiihatii linnisaa’: 31)

Para pembaca, karena perbuatan ghibah ini berkaitan erat dengan lisan yang mudah bergerak dan berbicara, maka hendaknya kita selalu memperhatikan apa yang kita ucapkan. Apakah ini mengandung ghibah atau bukan, jangan sampai tak terasa telah terjatuh dalam perbuatan ghibah. Bila kita bisa menjaga tangan dan lisan dari mengganggu atau menyakiti orang lain, insyaallah kita akan menjadi muslim sejati. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim sejati adalah bila kaum muslimin merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (H.R. Muslim)
Selengkapnya...

Jumat, 04 November 2011

SEKS DALAM PERSPEKTIF ISLAM MENUJU PERNIKAHAN ISLAMI

Oleh: Abdullah Shaleh Al-Hadrami

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam, keluarga, para shahabat dan pengikut setia mereka sampai hari kiamat; Amma ba’du,

PANDANGAN ISLAM TENTANG SEKSUAL

Seks naluri manusia.


Manusia diciptakan Allah Ta’ala sebagai makhluk yang sempurna, dianugerahkan kepadanya instink untuk mempertahankan keturunan sebagai konsekwensi kesempurnaannya itu. Ini berarti manusia harus memperkembangkan keturunan dengan alat yang telah diberikan Allah Ta’ala kepadanya. Diantara perlengkapan itu ialah alat kelamin dan nafsu sahwat untuk saling bercinta. Dari percintaan inilah akan timbul nafsu seks sebagai naluri manusia sejak lahir.

Allah Ta’ala berfirman: ”Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan (syahwat) kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita…”(QS. Ali Imran: 14)

Ayat tersebut jelas menunjukkan bahwa manusia (laki-laki) sejak lahir telah dibekali cinta sahwat (nafsu seks) tehadap wanita. Demikian pula wanita sebagai lawan jenis laki-laki tak ubahnya seperti laki-laki juga. Dia dibekali oleh Allah Ta’ala nafsu seks untuk melayani kehendak lawan jenisnya itu. Nafsu seks pada wanita ini digambarkan oleh Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an, dalam kisah wanita (isteri petinggi Mesir) yang jatuh cinta kepada Nabi Yusuf –Alaihis Salam, (QS. Yusuf : 23).

Maka sekarang menjadi jelas bahwa seks adalah kebutuhan biologis manusia yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan. Dan kebutuhan seksuil manusia harus mendapatkan penyaluran dengan disertai penerangan yang lengkap tentang seks terutama dari segi agama dan moral.

Apakah pendidikan seks itu?


Pendidikan seks adalah pendidikan yang mempunyai obyek khusus dalam bidang perkelaminan secara menyeluruh.
Adapula yang mengartikan bahwa pendidikan seks adalah penerangan yang bertujuan untuk membimbing serta mengasuh setiap laki-laki dan perempuan sejak dari kanak-kanak sampai dewasa didalam perihal pergaulan antar kelamin pada umumnya dan kehidupan seksuil pada khususnya.
Tujuan pendidikan seks dalam Islam adalah untuk mencapai hidup bahagia dalam membentuk rumah tangga yang akan memberikan ketenangan, kecintaan, kasih sayang serta keturunan berkualitas yang taat kepada Allah Ta’ala dan selalu mendoakan kedua orangtuanya serta berguna bagi masyarakat, (QS. Ar-Ruum: 21).

Perlukah pendidikan seks?

Pada mulanya orang menganggap bahwa pendidikan seks itu amatlah kotor yang tak patut diajarkan. Golongan yang berpendapat demikian ini karena mereka anggap bahwa seks adalah masalah tabu yang tak perlu dikenal apalagi sampai diajarkan.
Namun demikian banyak juga kalangan cendekiawan yang mendukung agar pendidikan seks disebarluaskan. Dalam survey yang diadakan terhadap anak-anak gadis yang hamil diluar pernikahan ditemukan bahwa pada umumnya mereka tidak pernah mendapatkan pendidikan seks disekolah maupun dirumah.
Sekarang masalahnya bagaimana cara memberikan pendidikan seks itu?. Mengingat karena masalah seks ini bagi kita masih begitu rumit, sensitive dan komplek hendaknya dalam menerapkan pendidikan seks perlu dijunjung norma-norma agama dan adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat.

Ayat-ayat Al-Qur’an yang memberikan dasar-dasar dan tuntunan-tuntunan pendidikan seks antara lain:

Allah Ta’ala berfirman:
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya (pakaian luarnya). Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya . . . . .” (QS. An-Nuur: 31-32)
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)
Allah Ta’ala berfirman:
“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 223).
Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang lainnya.

Hadis-hadis Nabi –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam yang memberikan dasar-dasar dan tuntunan-tuntunan pendidikan seks antara lain:

Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Sungguh ditusuknya kepala salah seorang dari kalian dengan jarum dari besi lebih baik baginya daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabrani dengan sanad sahih).

Beliau –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat (berduaan) dengan wanita (bukan mahram) melainkan pihak ketiganya adalah setan.” (HR. At-Tirmidzi dengan sanad sahih).

Beliau –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Perempuan manapun yang menggunakan parfum kemudian melewati suatu kaum agar mereka mencium wanginya maka ia seorang pelacur.” (HR. Imam Ahmad dengan sanad sahih).

Beliau –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Adapun zina mata adalah memandang (kepada apa yang diharamkan Allah)” (HR. Imam Ahmad dengan sanad sahih).

Dan masih banyak lagi hadis-hadis yang lainnya.

PERNIKAHAN YANG ISLAMI

Anjuran untuk menikah bagi yang telah mampu.

Allah Ta'ala berfirman: “Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam Alaihis Salam) dan dari padanya Dia menciptakan isterinya (Hawa), agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung . . . . .” (QS. Al-A’raaf: 189).

Allah Ta'ala berfirman: “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian (bujangan laki-laki atau perempuan) diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari budak-budak lelaki dan budak-budak perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nuur: 32)

Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Wahai sekalian pemuda! Siapa yang telah mampu untuk menikah diantara kalian maka hendaklah menikah, karena (pernikahan itu) lebih menjaga pandangan mata dan lebih memelihara kemaluan. Barang siapa yang belum mampu maka hendaklah berpuasa (shaum), karena hal itu bisa mengurangi sahwat.” (HR. Bukhari dan Muslim dll)



Tujuan pernikahan dalam Islam.

-Mengikuti sunnah Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam 
-Mendapatkan ketentraman, cinta dan kasih sayang.
-Menjaga pandangan mata dan memelihara kehormatan.
-Membentuk generasi muslim yang berkualitas.
-Melestarikan kehidupan manusia agar tidak punah dll.

Alur yang harus dilalui menuju pernikahan Islami.

Islam tidak mengenal istilah berpacaran, penjajakan atau mencoba-coba dahulu. Apabila seseorang hendak menikah maka dianjurkan untuk memilih calon pendampingnya yang shalih atau shalihah agar mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Jadi menikah dahulu kemudian menjalin cinta dan kasih sayang setelah ada ikatan pernikahan yang sah menurut syariat.

Kriteria suami yang shalih, antara lain:

-Bertakwa kepada Allah Ta'ala.
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13).

-Bertanggung jawab dalam segala hal, baik dalam urusan dunia ataupun urusan akhirat.
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka …..(QS. At-Tahrim: 6).

-Pengertian.
Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Berbuat baiklah kepada wanita (isteri), karena ia diciptakan dari tulang rusuk (yang bengkok). Apabila kamu hendak meluruskanya maka ia akan patah dan apabila kamu biarkan saja maka ia akan terus bengkok, karena itu nasehatilah wanita (isteri) dengan baik.” (HR. Bukhari dan muslim) .

Kriteria isteri yang shalihah, antara lain:

-Taat kepada Allah Ta'ala dan kepada suami.
-Menjaga dirinya dan harta suami apabila suami bepergian
-Menyenangkan apabila dipandang suami
Allah Ta'ala berfirman: “Wanita yang shalihah adalah yang taat kepada Allah dan kepada suaminya lagi memelihara diri ketika suami tidak ada . . . . . “ (QS. An-Nisaa’: 34)
Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Isteri terbaik adalah apabila dipandang suami ia menyenangkan, apabila diperintah ia taat dan apabila ditinggal bepergian ia menjaga dirinya dan harta suaminya.” (HR. Imam Ahmad dll dengan sanad sahih).

Beliau –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda pula: “Dunia adalah kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah isteri yang shalihah.” (HR. Muslim).

Adab meminang dalam Islam:

Apabila telah ada kecocokan antara pihak lelaki dengan pihak perempuan maka disunnahkan untuk nadhar atau saling melihat, namun hendaklah pihak perempuan disertai mahramnya sehingga tidak terjadi khalwat (berduaan).
Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: ”Apabila seorang diantara kalian hendak meminang seorang perempuan, jika bisa melihat kepada apa yang menjadi daya tarik untuk menikahinya, maka hendaklah ia lakukan.” (HR. Imam Ahmad dll dengan sanad hasan)
Disunnahkan pula untuk melaksanakan shalat istikharah yaitu meminta petunjuk Allah Ta'ala dengan shalat dua rakaat dan berdoa dengan doa yang telah diajarkan Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam .(HR. Bukhari dll)
Dianjurkan pula untuk bermusyawarah dengan orang-orang yang bisa dipertanggung jawabkan dan telah berpengalaman serta berilmu.

[Tahapan Menuju Pernikahan Yang Sesuai Syari'at

1. Melalui perantara.
2. Tukar menukar bio data.
3. Pelajari lebih dalam tentang calon.
4. Shalat istikharah dan bermusyawah.
5. Nadhor atau saling melihat dan bertemu, tapi tidak berdua-duaan dan pihak perempuan disertai mahramnya.
6. Khitbah atau dipinang.
7. Lamaran.
8. Pernikahan.
9. Allah meridhoi dan memberikan barokah.

Khitbah dan lamaran itu mengikuti adat kebiasaan di suatu tempat. Di tempat kami adatnya khitbah dulu kemudian lamaran.
Ta'aruf harus sepengetahuan wali. Karena sering terjadi ta'aruf tanpa sepenge tahuan wali ternyata setelah keduanya sama-sama cocok dan mantap walinya tidak menyetujui. Ini sangat berdampak buruk.]

Kemungkaran-kemungkaran yang terjadi pada resepsi pernikahan:

-Ikhtilat atau percampuran para undangan lelaki dengan perempuan yang bukan mahram.
-Kedua mempelai duduk di pelaminan dengan disaksikan oleh para undangan.
-Memakai pakaian yang menampakkan aurat.
-Saling bersalaman antara lelaki dengan perempuan yang bukan mahram.
-Kaum perempuan memakai parfum yang dicium wanginya oleh lelaki yang bukan mahram.
-Diperdengarkan musik.
-Mengambil gambar makhluk bernyawa (berfoto).
-Berlebih-lebihan dalam segala hal termasuk makanan sehingga terjadi kemubadziran.
-Mengadakan acara-acara yang tidak ada tuntunannya, yang mengarah pada kesyirikan dan bid’ah dll.

MENIKMATI MALAM PERTAMA

Malam pertama adalah malam dimana kedua mempelai melakukan hubungan kelamin pertama kali. Jadi seandainya kedua mempelai baru melaksanakan hubungan kelamin pada malam kedua atau malam ketiga atau malam kesepuluh, maka itulah yang disebut malam pertama. Mengapa demikian? Karena malam pertama selalu dihubungkan dengan peristiwa pemecahan bakarah atau selaput dara.

Menahan nafsu birahi pada malam pertama pernikahan adalah langkah yang bijaksana. Sebaiknya pada malam itu dilakukan perkenalan dan tidur bersama atau melakukan cumbu rayu sebagai pelepas kerinduan. Diperlukan pula kebijaksanaan suami untuk memberikan ketenangan agar isteri tidak merasa takut.

Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam ketika menikah dengan Aisyah –radliallahu anha –satu-satunya isteri Beliau –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam yang gadis- dengan memberikan kepada Aisyah –radliallahu anha segelas susu dan duduk disampingnya untuk menenangkannya. (HR. Imam Ahmad dll dengan sanad hasan)

Amalan-amalan yang dilakukan setelah pernikahan:

-Suami memegang bagian depan kepala isteri lalu membaca do’a sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ.

(Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepadaMu kebaikannya dan kebaikan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya, dan aku memohon perlindungan kepadaMu dari kejelekannya dan kejelekan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya). (HR. Bukhari, Abu Dawud dll)

-Shalat dua raka’at berjamaah suami-isteri kemudian berdoa memohon keberkahan kepada Allah Ta'ala , sebagaimana dicontohkan sahabat Ibn Mas’ud Radhiallahu 'Anhu dan Salafus Saleh Rahimahumullah. (Riwayat Ibnu Abi Syaibah, Abdur Razzaq dan Ath-Thabrani dengan sanad sahih)

-Berdoa ketika hendak melakukan jima’:

بِسْمِ اللهِ اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا.

(Dengan nama Allah, Ya Allah! Jauhkan kami dari syaitan, dan jauhkan syaitan dari mengganggu apa yang Engkau rezekikan kepada kami.)
(HR. Bukhari dan Muslim)

Etika atau adab dalam berjima’ (bersenggama).

Suami yang bijaksana adalah suami yang tidak hanya mementingkan kepuasan diri sendiri, akan tetapi ia juga berupaya memberikan kepuasan kepada isterinya. Karena itu cumbu rayu sangat diperlukan sebelum dimulainya hubungan badan (jima’).

Para ulama dalam kitab-kitab mereka menerangkan secara mendetail dan terperinci tentang masalah ini dan upaya-upaya apa saja yang harus dilakukan suami untuk memberikan kepuasan kepada isterinya. Seorang isteri akan merasa sangat tersiksa apabila suami meninggalkannya sebelum mencapai puncak kepuasan (orgasme).

Faktor terpenting untuk mencapai kepuasan bersama adalah:

-Cumbu rayu
-Ketenangan pikiran
-Kenyamanan suasana
-Dan aneka variasi dalam melakukannya.

Ditinjau dari segi agama membuat variasi dari aneka posisi dalam bersenggama tidaklah dilarang. Allah Ta'ala berfirman: “Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 223).

Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam menerangkan ayat tersebut: “Dari depan atau dari belakang (boleh) asalkan tetap di farji (vagina).” (HR. Bukhari dan Muslim dll)

Hal-hal yang diharamkan dalam senggama (jima’):

-Senggama (jima’) melalui anus atau lubang dubur [anal sex].
Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Terkutuklah suami yang menggauli isterinya di lubang duburnya (anus).” (HR. Imam Ahmad, Ibn Adiy dll dengan sanad hasan)

-Senggama di farji (vagina) ketika isteri dalam keadaan haid.
Allah Ta'ala berfirman: “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran.” Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita diwaktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Allah kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 222).

Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda tentang wanita haid: “Lakukanlah segala sesuatu selain nikah (jima’ di farji). (HR. Muslim dll)

Jadi yang diharamkan hanyalah senggama di lubang dubur / anus [anal sex] dan senggama pada waktu haid di farji saja, selain itu tidaklah diharamkan.

RUMAH TANGGA YANG SAKINAH

Rumah tangga sakinah adalah rumah tangga yang dibangun atas dasar cinta dan takwa kepada Allah Ta'ala, saling menghormati, menghargai dan pengertian dari semua pihak. Apabila ada problem atau masalah maka diselesaikan dengan sabar dan tanpa emosi serta tidak mudah mengeluarkan kata-kata cerai.
Tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa salah satu jalan menuju kebahagiaan adalah paham dalam liku-liku seksuil. Akan tetapi kepahaman itu belumlah sempurna kalau tidak disertai dengan iman dan takwa.
Apalah artinya harta bagi seorang isteri jika ternyata kebutuhan bathiniahnya tidak terpenuhi? Demikian pula apalah artinya kecantikan, keayuan dan kemolekan isteri jika ia dingin saja dalam berhubungan badan (jima’) dengan suaminya? Suami isteri harus menyadari akan hal ini.
Seorang isteri harus selalu siap melayani suaminya untuk mencapai kepuasan, demikian pula seorang suami harus selalu berusaha memberi kepuasan kepada isterinya. Akhirnya berbahagialah keduanya dalam jalinan cinta yang harmonis dan diridlai oleh Allah Ta'ala.

Semoga Allah Ta'ala memberikan kepada kita semua rumah tangga sakinah, yang penuh dengan mawaddah dan rahmah, rumah tangga yang “Baitiy jannatiy” Rumahku adalah sorgaku. Amien ya Robbal ‘alamin.

Maraji’:

-Al-Qur’an dan Terjemahnya, Hadiah dari Kerajaan Saudi Arabia
-At-Tafsir al-Muyassar, Nukhbatul Ulama
-Riyadlus Shalihin, An-Nawawiy
-Zaadul Ma’aad, Ibnul Qayyim
-Al-Islam wa as-Sa’adah az-Zaujiyah, Abu Hamid Al-Ghazali
-Fathul Mu’in, Al-Milbariy
-Tuhfatul ‘Arus, Mahmud al-Istanbuliy
-Adabuz Zafaf, Al-Albani
-Adabul Khitbah wa az-Zafaf, ‘Amr Abdul Mun’im
-Jami’ Ahkam an-Nisaa’, Musthafa al-‘Adawiy
-Al-liqa’ Baina az-Zaujain, Abdul Qadir ‘Atha
-Fiqh Sunnah, Sayid Sabiq
-Adab al-Mu’asyarah al-Zaujiyah, Zainab Hasan Syarqawi
-Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyah li ath-Thifli, Muhammad Nur Suwaid
-Muharramat Istahana Biha an-Nas, Al-Munajjid
-Min Munkaratil Afraah, Syaikh Utsaimin
-Az-Zawaaj, Syaikh Utsaimin
-Seks dari A sampai Z, dr. Nina Surtiretna
-Moral Agama dalam Kehidupan Sexuil Suami Isteri, Mahfudli Sahli

(Disampaikan pada Seminar Regional dengan Tema; Pendidikan Sex Yang Sehat Menuju Pernikahan Yang Islami, diselenggarakan oleh Forum Kajian Islam Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, Sabtu 12 Rabi’ul Awal 1423 H / 25 Mei 2002 M).


Tambahan Penjelasan Masalah Hukum Gambar dan Foto:

Syaikh ‘Abdullâh bin Shâlih al-‘Ubailân hafizhahullâhu ditanya tentang hukum gambar, maka beliau hafizhahullâhu menjawab :

Masalah ini ada perinciannya. Para ulama bersepakat akan keharaman gambar (yang dibuat) oleh tangan, sebagaimana mereka juga bersepakat akan haramnya gambar-gambar yang berfisik (jism) dan patung-patung. Inilah yang disepakati oleh para ulama (keharamannya) dan banyak nash-nash yang secara tegas menunjukkan (akan keharaman) gambar-gambar yang telah ada semenjak zaman nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam.

Adapun gambar-gambar yang ada di zaman ini, maka terbagi menjadi dua : yaitu gambar fotografi dan gambar video. Adapun yang pertama (yaitu fotografi) maka para ulama ahlus sunnah bersepakat akan haramnya menggantungkan gambar-gambar foto dan hukumnya sama dengan hukum gambar yang dihasilkan dari gambar tangan yang digantung. Sebab, keserupaan hasil dari gambar yang dibuat oleh tangan sama dengan gambar yang dihasilkan oleh kamera.

Adapun selain itu (yaitu selain digantung), maka para ulama berbeda pendapat. Diantara mereka ada yang menyamakan antara gambar foto dengan gambar tangan, yaitu hukumnya haram secara mutlak, kecuali pada keadaan tertentu yang mendesak (yang tidak bisa dihindarkan, seperti KTP, SIM, Paspor, dls, pent.). Sebagian lagi berpendapat bahwa hukum foto tidak sama dengan hukum gambar tangan, selama tidak diagungkan. Jika diagungkan, maka haram hukumnya. Mereka berargumentasi bahwa gambar fotografi itu tidak ada unsur penciptaan dan menggambar manusia di dalamnya, namun hanyalah memindahkan obyek suatu benda dan menempatkannya (di tempat lain), yang serupa dengan gambar pada cermin, dimana apabila tampak gambar manusia di dalamnya, tidak ada yang mengatakan bahwa gambar tersebut haram hukumnya. Sebab, tidak ada unsur penciptaan makhluk Alloh di dalamnya. Keserupaan akan terjadi apabila manusia masuk ke dalam penciptaan makhluk Alloh, namun dalam kondisi ini (yaitu fotografi) tidak sama dengan penciptaan makhluk Alloh. Walau demikian, tidak disukai dan dianjurkan bagi seseorang untuk memperbanyak suatu hal yang tidak begitu dibutuhkan olehnya.

Adapun gambar-gambar di kamera televisi, maka saya tidak tahu ada seorang pun dari guru-guru kami yang menfatwakan keharamannya. Sisi pandang argumentasinya adalah, bahwa hal ini tidak dianggap sebagai gambar kecuali di saat menyaksikannnya, kemudian hal ini hanyalah memindahkan (obyek) hidup di saat kejadian dan tidak termasuk gambar yang dilarang oleh Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam.

(Ditranskrip secara bebas dari Liqo`ul Maftuh Syaikh al-‘Ubailân/Abu Salma)

Al-Faqir Abdullah Sholeh Hadrami –Ghofarollohu Lahu berkata:

Mengenai gambar makhluk bernyawa kita perlu memerincinya. Memang terdapat riwayat-riwayat sahih tentang larangan patung dan gambar makhluk bernyawa sebagaimana dalam Kitab Tauhidnya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab –Rahimahullah. Tidak ada khilaf di kalangan salaf akan diharamkannya kedua hal tersebut.

Yang menjadi masalah adalah Foto Kamera (Photografi) yang belum ada pada masa Nabi dan Salaf. Sehingga terjadi perbedaan pendapat dikalangan Ulama. Sebagian mengatakan masuk dalam hukum larangan dan sebagian mengatakan tidak masuk dalam larangan, karena itu bukan menggambar atau melukis akan tetapi memindahkan gambar ciptaan Allah dengan alat tertentu seperti bercermin. Tentu saja asalkan gambarnya adalah yang mubah dan bukan yang diharamkan.

Kecuali, apabila ada unsur yg merubah status hukum asalnya menjadi haram, seperti memasang gambar yg dapat menimbulkan fitnah, gambar wanita, atau gambar yang dikhawatirkan akan ada unsur kultus atau pengagungan, atau memajangnya di rumah, dll.

Hal ini dikarenakan tidak adanya dalil yang shahih dan sharih (jelas) tentang masalah Foto Kamera (Photografi) tersebut. Jadi, masalah ini adalah masalah ijtihad murni. Seandainya ada yang mengharamkan, maka haramnya adalah haram ijtihadi (hasil ijtihad) dan bukan haram Qoth’i (pasti)…Bukankah kita harus berlapang dada dalam masalah khilafiyyah yang sumbernya adalah ijtihad? Selama khilaf tersebut bukan dalam masalah aqidah?

Namun demikian hendaklah Foto tersebut tidak dipajang di dalam rumah akan tetapi di simpan saja, karena dikhawatirkan masuk dalam sabda Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam:

“Sesungguhnya Malaikat tidak akan masuk suatu rumah yang di dalamnya ada patung atau gambar-gambar.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Semoga Jelas dan Bisa Dipahami.

Wallaahul Musta’aan…

Selengkapnya...

Senin, 23 Februari 2009

HAKIKAT MENCINTAI RASULULLAH SAW.

Oleh : Mohd Yaakub bin Mohd Yunus

Setiap tahun umat Islam menyambut meriah kehadiran 12 Rabiul Awal, iaitu tarikh yang dikaitkan dengan kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. Pelbagai upacara akan diatur sempena hari tersebut yang juga dikenali sebagai maulidul rasul seperti perarakan besar-besaran, upacara marhaban dengan membaca kitab berzanji, mengadakan jamuan-jamuan makan dan ceramah-ceramah agama. Semuanya ini dilaksanakan demi untuk menggambarkan perasaan kasih dan sayang terhadap junjungan kita Nabi Muhammad s.a.w.


Saban tahun 12 Rabiul Awal muncul, maka saban tahun juga polemik tentang sunnah atau bidaah nya menyambut maulidul rasul akan muncul. Pihak yang menentang sambutan maulidul rasul menyatakan ia adalah bidaah kerana ia tidak pernah dilaksanakan pada zaman Nabi s.a.w dan sahabatnya serta pada zaman para salafussoleh . Malah imam-imam mazhab yang empat seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafie dan Imam Ahmad r.h juga tidak pernah menganjurkan sambutan maulidul rasul ini.

Timbul persoalan adakah mereka semua ini tidak mencintai Nabi Muhammad s.a.w. sebagaimana generasi sesudah mereka yang menganjurkan sambutan maulidul rasul? Bagi pihak yang menyokong sambutan ini mereka beranggapan ia adalah bidaah yang baik (hasanah) dan hanya bertujuan untuk mengagungkan baginda s.a.w. dan mencerminkan kasih sayang kita kepada baginda. Apatah lagi tidak terdapat larangan yang khusus daripada ALLAH serta Rasul-NYA ke atas sambutan maulidul rasul ini.

Apa pun jua kita tidak ingin menyambung polemik ini yang akan sentiasa dibahaskan tanpa penghujungnya. Apa yang ingin kita bahaskan di sini adalah tentang tatacara untuk membuktikan kasih sayang kita serta pengagungan kita kepada Nabi Muhammad s.a.w.

Sebagaimana yang telah kita maklum bahawa golongan yang pertama kali mengadakan upacara sambutan maulidul rasul ini adalah Bani Ubaid al-Qadah dari kelompok Fatimiyyah yang memerintah Mesir bermula dari 362 sehingga 567 Hijrah. Mereka ini berfahaman syiah al-Rafidhah dan juga terpengaruh dengan aliran Qaramithah al-Bathiniyah iaitu kelompok yang terkeluar dari ahli sunnah wal jamaah.

Kerajaan Fathimiyah ini menganjurkan upacara peringatan maulidul rasul ini bukan atas dasar cinta mereka kepada Nabi Muhammad s.a.w. Tetapi, tujuan utama mereka adalah berunsur politik yakni untuk mencari pengaruh serta sokongan daripada rakyat demi menutupi kesesatan mereka.

Jika mereka inilah pelopor sambutan maulidul rasul, jadi bagaimanakah caranya para salafussoleh mempamerkan kecintaaan mereka kepada Rasulullah s.a.w? Tentu sekali kita telah fahami bahawa golongan yang paling mencintai Nabi Muhammad s.a.w. adalah para sahabatnya. Malah, generasi terbaik mencontohi baginda s.a.w adalah para sahabat, tabi’in dan tabi’ al-Tabi’in sebagaimana sabdanya:

خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
"Sebaik-baik generasi ialah generasiku, kemudian orang-orang yang sesudahnya (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang sesudahnya (tabi’ al-Tabi’in)." - Hadis riwayat al-Bukhari di dalam Sahih al-Bukhari, kitab al-Manaqib, hadis no: 3650.

Telah terbukti mereka ini tidak pernah menyambut maulidul rasul. Jadi bagaimanakah pandangan mereka tentang hakikat sebenar mencintai Rasulullah s.a.w.. Oleh itu, melalui makalah ini penulis akan cuba mengungkap hakikat tersebut.

Kewajipan Mencintai Nabi s.a.w

Mencintai Nabi Muhammad s.a.w itu adalah satu prinsip agama yang sangat penting serta mendasar. Seseorang itu tidak dianggap beriman sehingga dia benar-benar mencintai Nabi Muhammad s.a.w melebihi dirinya sendiri, kaum kerabat dan harta-bendanya.

Firman ALLAH S.W.T:

"Katakanlah (wahai Muhammad): Jika bapa-bapa kamu, anak-anak kamu, saudara-saudara kamu, isteri-isteri (atau suami-suami) kamu, kaum keluarga kamu, harta benda yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu bimbang akan merosot dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai (jika semua itu) menjadi perkara-perkara yang kamu cintai lebih daripada ALLAH dan Rasul-NYA dan (dari) berjihad untuk agama-NYA, maka tunggulah sehingga ALLAH mendatangkan keputusan-NYA (azab seksa-NYA); kerana ALLAH tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (derhaka)." – Surah al-Taubah (9) : 24.

Firman ALLAH S.W.T:

"Nabi itu (hendaklah) lebih diutamakan bagi orang-orang yang beriman berbanding diri mereka sendiri." – Surah al-Ahzab: 6.

Sabda Rasulllah s.a.w:

أَنَا أَوْلَى بِكُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ
Maksudnya:
"Aku lebih utama bagi setiap mukmin berbanding dirinya sendiri." - Hadis riwayat Muslim di dalam Sahih Muslim, kitab al-Jamaah, hadis no: 6.

Sabda Rasulllah s.a.w:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Maksudnya:
"Tidaklah dianggap beriman di kalangan kamu semua sehingga aku lebih dicintainya daripada ibubapanya, anaknya dan manusia seluruhnya." - Hadis riwayat al-Bukhari di dalam Sahih al-Bukhari, kitab al-Imaan, hadis no: 15.

Masih terdapat banyak lagi dalil sedemikian rupa yang tidak lain menunjukkan kewajipan mencintai baginda s.a.w di mana ia merupakan antara ciri-ciri golongan beriman. Rasulullah s.a.w. berhak meraih cinta tersebut kerana baginda adalah makhluk yang paling mulia di sisi ALLAH, memiliki akhlak yang luhur dan jalan yang lurus, mengasihi umatnya, memberi petunjuk kepada umatnya, menyelamatkan umatnya dari neraka dan menjadi rahmat kepada seluruh alam. Mencintai Nabi Muhammad s.a.w merupakan kesan kesaksian kita bahawa Muhammad itu utusan ALLAH yang merupakan sebahagian dari kalimah syahadah.

Hakikat Mencintai Rasulullah

Orang yang benar-benar mencintai Rasulullah s.a.w memiliki ciri-ciri tertentu. Di sini penulis akan menampilkan beberapa tanda-tanda yang menggambarkan perasaan cinta kita kepada Rasulullah s.a.w:

1. Mentauhidkan ALLAH S.W.T.

Hikmah utama diutusnya para rasul termasuk Nabi Muhammad s.a.w adalah untuk menyeru manusia kembali kepada tauhid yang murni dan menentang syirik.

Firman ALLAH S.W.T:

"Dan sesungguhnya KAMI telah mengutus di kalangan tiap-tiap umat seorang rasul (agar menyeru mereka): Hendaklah kamu menyembah ALLAH dan jauhi Taghut." – Surah al-Nahl: 36.

Al-Hafiz Ibn Kathir r.h berkata:

"Semua para rasul mengajak beribadah kepada ALLAH dan melarang beribadah kepada selain-NYA. Malah, ALLAH sentiasa mengutus para rasul dengan tugas tersebut semenjak terjadinya kesyirikan yang dilakukan oleh kaum Nabi Nuh a.s. Dialah rasul pertama diutus oleh ALLAH kepada penghuni bumi hingga penutup para rasul, iaitu Muhammad s.a.w yang menyampaikan dakwahnya kepada bangsa jin dan manusia di timur dan barat. Keadaan mereka semua ini digambarkan sebagaimana firman ALLAH S.W.T:

"Dan KAMI tidak mengutus sebelummu (wahai Muhammad) seorang Rasul melainkan KAMI wahyukan kepadanya: Bahawa sesungguhnya tiada TUHAN (yang berhak disembah) melainkan AKU. Oleh itu, beribadahlah kamu kepada-KU." – Surah al-Anbiya': 25.

Maksud mentauhidkan ALLAH adalah beribadah hanya kepada ALLAH sahaja dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apa pun. Inilah pengertian sebenar kalimah tauhid, iaitu La Ilahaa Illaallah (Tiada TUHAN yang berhak disembah melainkan ALLAH) dengan memurnikan ibadah hanya kepada-NYA dan berlepas diri dari segala sesuatu selainnya. Inilah misi utama Nabi Muhhamad s.a.w terhadap umatnya.

Oleh itu, untuk membuktikan kasih sayang kita kepada Nabi Muhammad s.a.w, kita hendaklah menghindari amalan-amalan syirik seperti menyembah berhala, mengikhlaskan ibadah kita hanya kepada ALLAH, berdoa hanya kepada ALLAH tanpa perantaraan (wasilah) yang tidak di izinkan-NYA seperti bertawassul di kuburan para wali, mentaati hukum-hakam ALLAH serta berlepas diri daripada hukum buatan manusia yang tidak selari dengan syarak, tidak memakai tangkal, tidak bertilik nasib, tidak berjumpa bomoh, mengingkari nama-nama dan sifat-sifat ALLAH dan lain-lain lagi. Mentauhidkan ALLAH merupakan bukti paling kukuh menunjukkan kita mencintai Nabi Muhammad s.a.w.

2. Mentaati Sunnah Nabi s.a.w.

Di antara tanda-tanda yang jelas menggambarkan perasaan sayang kita kepada Nabi Muhammad s.a.w adalah dengan mengerjakan sunnahnya, mengikuti perkataan dan perbuatannya, menjalankan perintahnya dan menghindari larangannya. Pada dasarnya semua perbuatan dan ucapan Nabi s.a.w wajib diikuti dan diteladani.

Firman ALLAH S.W.T:

Maksudnya:
"Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu terdapat contoh ikutan yang baik bagi kamu, iaitu bagi orang yang sentiasa mengharapkan (keredhaan) ALLAH dan (balasan baik) hari akhirat serta dia pula menyebut dan mengingati ALLAH banyak-banyak (dalam masa susah dan senang)." – Surah al-Ahzab: 21

Menurut al-Hafiz Ibn Kathir:

"Ayat ini merupakan dasar utama untuk mencontohi Rasulullah s.a.w baik dalam ucapan, perbuatan mahupun hal ehwal baginda.
Mentaati Rasulullah s.a.w juga adalah bukti yang menunjukkan kita mencintai ALLAH.

Firman ALLAH S.W.T:

"Katakanlah (wahai Muhammad): Jika benar kamu mengasihi ALLAH maka ikutilah aku, pasti ALLAH mengasihi kamu serta mengampunkan dosa-dosa kamu. Dan (ingatlah), ALLAH Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani." – Surah Ali Imran: 31

Mentaati sunnah Nabi juga bermaksud menghindari amalan bidaah. Bidaah seperti yang didefinisikan oleh Imam al-Syathibi r.h ialah:

"Jalan yang direka di dalam agama, yang menyerupai syariah dan tujuan mengamalnya untuk berlebihan dalam mengabdikan diri kepada ALLAH." - Rujuk Kitab Meluruskan Tafsir Bidaah karya Syeikh Alwi bin Abdul Qadir al-Saqqaf yang merupakan ringkasan kepada Kitab al-I’tishom karya Imam Abu Ishaq al-Syathibi (edisi terjemahan oleh Farid Qurusy, Pustaka As-Sunnah, Surabaya (2003), ms. 2.

Berdasarkan definisi ini dapat kita fahami bahawa medan operasi bidaah adalah dalam hal-hal yang bersangkutan dengan agama sahaja. Oleh itu apa jua bentuk rekaan terkini di dalam hal kehidupan duniawi maka ia tidak termasuk di dalam ruang lingkup perbahasan bidaah menurut definisi syarak.

Ini kerana, terdapat dalil-dalil yang menggalakkan umat Islam untuk terlibat di dalam usaha mencipta rekaan-rekaan terkini demi kemajuan umat Islam. Dalam hal ehwal duniawi, manusia memiliki kebebasan untuk melakukan inovasi termoden asalkan ia tidak mendatangkan keburukan kepada orang ramai serta tidak bertentangan dengan syariah.

Sabda Nabi s.a.w:

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ
Maksudnya:
"Kamu lebih tahu hal ehwal dunia kamu." - Hadis riwayat Muslim di dalam Sahih Muslim, kitab al-Fadhail, hadis no: 2363.

Sabda Nabi s.a.w:

مَا كَانَ مِنْ أَمْرِ دُنْيَاكُمْ فَأَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ وَمَا كَانَ مِنْ أَمْرِ دِينِكُمْ فَإِلَيَّ‏
Maksudnya:
"Jika sesuatu urusan termasuk hal ehwal dunia kamu, kamu lebih tahu untuk menguruskannya dan jika sekiranya termasuk urusan agama kamu, kembalikanlah kepada aku." - Hadis riwayat Ibn Majah di dalam Sunan Ibn Majah, kitab al-Ahkam, hadis no: 2462.

Bidaah yang kita maksudkan di sini adalah mengada-adakan ritual-ritual agama baru yang tidak pernah diajar atau diamalkan oleh Rasulullah s.a.w. Seluruh bidaah yang bersangkutan dengan agama ini adalah sesat dan pengamalannya adalah sia-sia kerana ia tidak diterima oleh ALLAH.

Sabda Nabi s.a.w:


فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Maksudnya:
"Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah (al-Quran), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (sunnah), seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan (bidaah), setiap perkara yang diada-adakan termasuk kategori bidaah dan setiap perkara yang bidaah adalah sesat." - Hadis riwayat Muslim di dalam Sahih Muslim, Kitab al-Jama’ah, hadis no: 867.

Sabda Nabi s.a.w:


مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ.
Maksudnya:
Barangsiapa yang mengada-adakan di dalam urusan kami (iaitu di dalam perkara berkaitan agama) apa-apa yang tidak ada padanya, maka tertolaklah ia.” - Hadis riwayat Imam al-Bukhari, no: 2697


مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.
Maksudnya:
Barangsiapa yang melakukan satu amal yang bukan dari suruhan kami (iaitu di dalam perkara berkaitan agama), maka tertolaklah ia. - Hadis riwayat Imam Muslim, no: 1718

Oleh itu, memerangi amalan bidaah merupakan satu bukti yang menunjukkan kecintaan kita kepada sunnah Nabi s.a.w. Sebaliknya, mengamalkan amalan bidaah menggambarkan pengkhianatan kita kepada baginda. Imam Malik r.h berkata:

"Sesiapa yang mencipta bidaah dalam Islam dan menganggapnya baik (hasanah) maka dia telah mendakwa Muhammad s.a.w mengkhianati risalah. Ini kerana, ALLAH telah berfirman:

"Pada hari ini aku telah sempurnakan agama kamu." – Surah al-Maidah: 3.

Setiap perkara yang ada pada hari tersebut tidak termasuk urusan agama, maka ia juga tidak akan menjadi sebahagian dari agama pada hari ini." – Rujuk Kitab Meluruskan Tafsir Bidaah karya Alwi bin Abdul Qadir al-Saqqaf, ms. 14.

Oleh itu, berhati-hatilah dengan amalan-amalan bidaah walaupun ia nampak baik dan bertujuan mulia. Ingatlah pesan Abdullah bin Umar r.a:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَاِنْ رآهَا النَّاسُ حَسَنَةٌ
Maksudnya:
“Setiap bidaah itu sesat, walaupun manusia memandangnya (perbuatan bi’dah tersebut) hasanah (baik).” – Atsar riwayat al-Lalaka-i di dalam Syarh Usul I’tiqad Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah, Ibn Nashir di dalam al-Sunnah dan oleh Ibn Battoh di dalam al-Ibanah.

3. Menyebarkan Sunnah Nabi s.a.w.

Mencintai Nabi s.a.w bukan sekadar hanya taat kepada sunnah baginda. Malah, antara tanda kesempurnaan perasaan cinta kepada baginda adalah dengan menyebarkan sunnah-sunnah tersebut kepada seluruh umat manusia. Sabda baginda s.a.w:

فَلْيُبْلِغْ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ
Maksudnya:
"Hendaklah orang yang yang hadir (pada hari ini) menyampaikan (sunnahku) kepada yang tidak hadir." - Hadis riwayat al-Bukhari di dalam Sahih al-Bukhari, kitab al-Haj, hadis no: 1739.

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
Maksudnya:
"Kamu semua hendaklah sampaikan apa yang diambil daripadaku walau satu ayat." - Hadis riwayat al-Bukhari di dalam Sahih al-Bukhari, kitab Ahadis al-Anbiya’, no: 3461.

Keinginan untuk menyebarkan sunnah Nabi s.a.w, menyampaikannya serta mengajarkannya adalah menyambung tugasan baginda. Sekiranya kerja-kerja dakwah baginda tidak ada kesinambungan pasti sunnahnya akan mati dan digantikan dengan amalan-amalan bidaah .

4. Sentiasa memuji dan mengingatinya.

Sekiranya kita mencintai Nabi Muhammad s.a.w, seharusnya baginda sentiasa berada di hati kita. Kita sepatutnya selalu mengingati pengorbanan yang telah baginda lakukan demi menyelamatkan umatnya dari kesesatan. Oleh itu, kita hendaklah memperbanyakkan membaca serta mempelajari sejarah hidup baginda serta berusaha untuk menjadikan perjalanan hidup baginda sebagai cahaya yang menyuluh perjalanan kita. Kita juga hendaklah hanya menyibukkan diri dengan sejarah baginda yang sahih dan menghindari cerita-cerita palsu dan lemah yang banyak tersebar dalam masyarakat.

Penulis juga menganjurkan para ulama mengkaji semula kandungan kitab marhaban atau berzanji yang sering dibacakan ketika majlis-majlis maulid kerana di dalamnya terdapat banyak kisah-kisah palsu serta riwayat yang daif (lemah) serta tidak mempunyai sandaran malah boleh membawa kepada kesyirikan dan khurafat. Bagi umat Islam di Malaysia, disaran agar mendapatkan kitab-kitab Sirah Nabi yang muktabar untuk dijadikan rujukan.

Kita juga sepatutnya memuji Nabi s.a.w dengan pujian yang selayak baginya. Pujian yang paling utama adalah dengan berselawat kepadanya.

Firman ALLAH S.W.T:

"Sesungguhnya ALLAH dan malaikat-NYA berselawat kepada Nabi. (Oleh itu) wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam sejahtera dengan penuh penghormatan." – Surah al-Ahzab: 56

Selawat-selawat yang kita ucapkan mestilah bersumber dari hadis-hadis yang sahih dan bukan selawat-selawat ciptaan manusia. Antara kalimah selawat yang baginda telah ajarkan adalah seperti berikut:

Pertama:

Abdul Rahman bin Abi Lailah r.a berkata:

“Saya berjumpa dengan Ka’ab bin Abi Lailah lalu dia berkata: Mahukah aku hadiahkan kepadamu satu hadiah yang aku pernah mendengarnya daripada Nabi s.a.w? Jawabku: Sudah tentu! Hadiahkanlah kepadaku. Dia berkata: Kami (para sahabat) pernah bertanya kepada Rasulullah s.a.w bagaimana (cara) berselawat kepada kamu (wahai) ahli bait kerana sesungguhnya ALLAH telah mengajarkan kepada kami bagaimana (caranya) kami memberi salam (kepadamu)? Baginda menjawab: Ucapkanlah oleh kamu semua,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Maksudnya:
“Ya ALLAH! Selawat ke atas Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana ENGKAU telah berselawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya ENGKAU Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya ALLAH! Berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana ENGKAU telah memberkati Ibrahim dan keluarga Ibrahim sesungguhnya ENGKAU Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” - Hadis riwayat al-Bukhari di dalam Sahih al-Bukhari, kitab Ahadith al-Anbiya’, hadis no: 3370.

Kedua:

Musa bin Talhah meriwayatkan daripada bapanya (iaitu Talhah bin ‘Ubaidullah) r.a katanya:

“Kami (para sahabat) bertanya: Ya Rasulullah, bagaimanakah (caranya) berselawat kepadamu? Baginda bersabda: Kamu semua hendaklah mengucapkan,
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Maksudnya:
“Ya ALLAH! Selawatlah ke atas Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana ENGKAU telah berselawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya ENGKAU Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana ENGKAU telah memberkati Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya ENGKAU Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” - Hadis riwayat Ahmad di dalam Musnad Ahmad, hadis no: 1323 dan juga diriwayatkan oleh Imam al-Nasaai di dalam Sunan al-Nasaai , kitab al-Sahwa, hadis no: 1273 dan 1274.

Ketiga:

Abu Mas’ud al-Anshari r.a berkata:

“Rasulullah s.a.w datang kepada kami sedang kami berada dalam majlis Sa’ad bin ‘Ubadah. Kemudian Basyir bin Sa’ad bertanya kepada baginda: ALLAH telah memerintahkan kepada kami berselawat kepadamu wahai Rasulullah, maka bagaimanakah (caranya) kami berselawat kepadamu? Abu Mas’ud berkata: Lalu Rasulullah s.a.w diam sehingga kami ingin kalau sekiranya dia (Basyir bin Sa’ad) tidak bertanya kepada baginda. Kemudian Rasulullah s.a.w bersabda: Kamu semua hendaklah mengucapkan,
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Maksudnya:
“Ya ALLAH! Selawatlah ke atas Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana ENGKAU telah berselawat kepada keluarga Ibrahim. Ya ALLAH! Berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana ENGKAU telah memberkati keluarga Ibrahim mengatasi seluruh alam. Sesungguhnya ENGKAU Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” - Hadis riwayat al-Nasaai di dalam Sunan al-Nasaai, kitab al-Sahwa, hadis no: 1268 dan juga diriwayatkan oleh Imam al-Tirmizi di dalam Sunan al-Tirmizi, kitab Tafsir al-Quran, hadis no: 3144.

Keempat:

Abu Humaid al-Saa’idi r.a berkata:

“Sesungguhnya mereka (para sahabat) bertanya: Ya Rasulullah! Bagaimana (cara) kami berselawat kepadamu? Jawab baginda: Ucapkanlah,
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Maksudnya:
“Ya ALLAH! Selawatlah kepada Muhammad dan kepada isteri-isteri beliau dan keturunannya sebagaimana ENGKAU telah berselawat kepada keluarga Ibrahim. Ya ALLAH! Berkatilah Muhammad, isteri-isteri beliau dan keturunannya sebagaimana ENGKAU telah memberkati keluarga Ibrahim. Sesungguhnya ENGKAU Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” - Hadis riwayat al-Bukhari di dalam Sahih al-Bukhari, kitab al-Anbiya’, hadis no: 3369 dan kitab al-Da’wat, hadis no: 6360. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Muslim dalam Sahih Muslim, kitab al-Solah, hadis no: 407.

Selain dari selawat-selawat di atas, terdapat beberapa lagi cara selawat yang telah diajar oleh Rasulullah s.a.w dan boleh kita dapati dari hadis-hadis sahih. Semuanya boleh dimanfaatkan ketika ingin berselawat kepada baginsa s.a.w. Sewajarnya kita mencontohi cara bacaan yang benar-benar telah diajar oleh baginda sendiri.

Dewasa ini ramai orang yang tidak mengambil peduli sunnah yang benar-benar mencontohi Rasulullah s.a.w berkaitan tatacara berselawat. Malah, mereka bukan sekadar menambah lafaz sayyidina atau lafaz-lafaz lain dalam selawat, tetapi ada yang sampai ke tahap menggubah tatacara atau lafaz-lafaz baru secara total tanpa ada contohnya daripada Nabi s.a.w, para sahabat, tabi’in, tabi’ al-Tabi’in mahupun imam-imam mazhab yang empat. Pada tanggapan mereka ini adalah satu perbuatan yang lebih bermanfaat berbanding lafaz asal yang datang daripada baginda s.a.w.

Tindakan sebegini sepatutnya dihindari secara total oleh umat Islam dan kembali kepada ajaran Nabi s.a.w sebagaimana yang terdapat di dalam hadis-hadis sahih. Ini kerana, Nabi Muhammad s.a.w adalah makhluk paling sempurna ibadahnya dan yang paling mulia di sisi ALLAH. Sewajarnya kita tidak mencontohi ikutan selain baginda s.a.w.

Menurut Syeikh Abu Ubaidah:

"Setelah kita ketahui bahawa bacaan selawat kepada Nabi s.a.w merupakan contoh ibadah dan sesuatu bersifat tauqifi. Kita tidak boleh menambah mahupun mengubah lafaz yang telah ditetapkan dengan bentuk formula selawat yang baru. Tindakan itu merupakan salah satu bentuk pembangkangan terhadap pemilik syariat (ALLAH) yang sebenarnya harus kita patuhi dan kita cintai dengan sepenuh hati." - Abu Ubaidah Mashur bin Hassan, Koreksi Total Ritual Solat, edisi terjemahan oleh W. Djunaeidi S, Pustaka Azzam, Jakarta (2001), ms. 162.

Sememangnya, berselawat kepada baginda disyariatkan dalam pelbagai ibadah seperti tasyahhud dalam solat, khutbah, solat jenazah, sesudah azan, saat berdoa, saat namanya disebut dan pelbagai kesempatan lain.

5. Mencintai mereka yang dicintai oleh Nabi s.a.w.

Antara tanda cinta seseorang kepada Nabi s.a.w adalah mencintai mereka yang dicintai oleh baginda seperti ahli keluarga dan para sahabatnya serta membenci mereka yang memusuhi, membenci serta menentang dakwah baginda.

Sabda Rasulullah s.a.w:
لاَ تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ
Maksudnya:
"Janganlah kamu semua mencaci salah seorang sahabatku. Ini kerana, sekiranya salah seorang di kalangan kamu menafkahkan emas sebesar gunung Uhud, semua itu tidak mampu menyamai satu mud (yang diinfakkan) salah seorang antara mereka malah tidak mencapai separuh." – Hadis riwayat Muslim di dalam Sahih Muslim, kitab Fadhail al-Sohabah, hadis no: 2541.

Sabda Nabi s.a.w:

أَلاَ أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّي فَأُجِيبَ وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَرَغَّبَ فِيهِ ثُمَّ قَالَ وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي
Maksudnya:
"Wahai manusia! Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa yang hampir sahaja utusan TUHANku (malaikat maut) datang menjemputku lalu aku memenuhinya. Aku akan meninggalkan kepadamu tsaqalain (dua perkara yang berat):
Pertama, Kitabullah yang berisi petunjuk dan cahaya. Berpegang teguhlah kepada Kitabullah. Baginda menganjurkan atas Kitabullah dan motivasi untuk itu,
Kemudian baginda bersabda: Dan juga ahli baitku. Aku mengingatkan kamu semua kepada ALLAH tentang ahli baitku, aku mengingatkan kamu semua kepada ALLAH tentang ahli baitku." - Hadis riwayat Muslim di dalam Sahih Muslim, kitab Fadhail al-Sohabah, hadis no: 2408.

Secara logiknya, sesiapa yang mencintai seseorang dia juga akan mencintai apa yang dicintai oleh orang yang disayangi. Hal ini dikuatkan dengan dalil berikut:

"Sesungguhnya sesiapa yang mencintai sesuatu maka dia akan mencintai segala yang disukainya, yang serupa dengannya dan segala yang ada kaitan dengannya." - Rujuk Fath al-Bari bi Syarh Sahih al-Bukhari karya al-Hafiz Ibn Hajar al-'Asqalani.

6. Membenci Orang Yang Dibenci Oleh Nabi s.a.w.

Hendaklah kita membenci serta menjauhkan diri daripada mereka yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya seperti golongan yang kufur kepada agama Allah dan mereka yang bergelumang dengan perbuatan yang bertentang dengan syarak. Firman Allah S.W.T..

Engkau tidak akan dapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, tergamak berkasih-mesra dengan orang-orang yang menentang (perintah) Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang yang menentang itu ialah bapa-bapa mereka, atau anak-anak mereka, atau saudara-saudara mereka, ataupun keluarga mereka. Mereka (yang setia) itu, Allah telah menetapkan iman dalam hati mereka, dan telah menguatkan mereka dengan semangat pertolongan daripada-Nya; dan DIA akan memasukkan mereka ke dalam Syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka tetap kekal di dalamnya. Allah redha akan mereka dan mereka redha (serta bersyukur) akan nikmat pemberian-Nya. Merekalah penyokong-penyokong (agama) Allah. Ketahuilah! Sesungguhnya penyokong-penyokong (agama) Allah itu ialah orang-orang yang berjaya. – al-Mujadaalah (58) : 22

7. Membela Nabi s.a.w dari serangan golongan munafik.

Dewasa ini kita melihat institusi kenabian, hukum-hakam ALLAH serta sunnah-sunnah baginda s.a.w sedang hebat diperlekehkan oleh kelompok-kelompok munafik seperti gerakan Islam liberal, golongan anti hadis, para orientalist dan kelompok sesat yang lain.

Oleh itu, antara tanda kecintaan kita kepada Nabi Muhammad s.a.w adalah dengan membantah hujah-hujah golongan tersebut dan membela baginda dengan memberikan penjelasan kepada seluruh umat Islam terhadap isu-isu batil yang dibangkitkan oleh musuh-musuh ALLAH.

Sabda Nabi s.a.w:


مَنْ يَرُدُّهُمْ عَنَّا وَلَهُ الْجَنَّةُ أَوْ هُوَ رَفِيقِي فِي الْجَنَّةِ
Maksudnya:
"Sesiapa yang membela kami dari gangguan orang-orang musyrik dia akan mendapat balasan syurga atau menjadi temanku di syurga." - Hadis riwayat Muslim di dalam Sahih Muslim, kitab al Jihad wa al-Siyara, hadis no: 1789.

ALLAH akan sentiasa menghargai mereka yang membela agama-NYA dengan memberi pertolongan kepada mereka.

Firman ALLAH S.W.T:

"Sesungguhnya ALLAH pasti menolong mereka yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya ALLAH benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa." – Surah al-Haj: 40.

Demikianlah beberapa tanda yang menggambarkan hakikat sebenar mencintai Nabi Muhammad s.a.w. Jelas di sini bahawa hakikat mencintai Nabi s.a.w bukanlah satu perkara yang datang hanya setahun sekali, iaitu pada tarikh 12 Rabiul Awal sahaja atau dengan hanya menganjurkan upacara-upacara tertentu sempena maulidur rasul. Malah, mencintai Nabi Muhammad s.a.w adalah satu proses berterusan dan sentiasa perlu diberi perhatian setiap waktu dan ketika.

Jelas juga kepada kita bahawa antara ciri-ciri utama golongan yang benar-benar mencintai baginda adalah mereka yang sentiasa berusaha menegakkan sunnah serta menentang bidaah.

Semoga sambutan maulidur rasul di Malaysia benar-benar akan menggambarkan hakikat sebenar kecintaan umat Islam di negara ini terhadap Nabi Muhammad s.a.w dengan menyisihkan segala amalan-amalan bidaah yang dikhususkan sempena sambutan hari yang penuh bermakna bagi seluruh umat Islam. Cinta kepada Rasulullah s.a.w dapat dibuktikan dengan ittiba’ (mengikuti sunnah Nabi s.a.w) dan bukan ibtida’ (mengamalkan amalan bidaah).

Selengkapnya...

Kamis, 19 Februari 2009

TUNJUKKANLAH KAMI JALAN YANG LURUS

Penulis asal : Cecep Sa’bana Rahmatillah

Kata Ihdinaa (tunjukkanlah kami) pada ayat dalam surat Al Fatihah merupakan bentuk kata perintah (fi’lu al-amr) dari kata hadâ-yahdii. Hadâ-yahdii sendiri artinya adalah memberi petunjuk kepada hal-hal yang benar. Kata hidayah merupakan bentuk fi’lu al masdar dari kata ini. Dalam Tafsir Munir karya Dr. Wahbah Az Zuhaily, hidayah ada lima macam. Satu hidayah ke hidayah yang lain bersifat hierarkis, di mana hidayah yang ada di bawahnya akan menyempurnakan hidayah yang ada di atasnya. Jadi semakin ke bawah maka semakin tinggi nilainya. Adapun kelima hidayah tersebut adalah sebagai berikut :

Pertama, hidayah ilhami. Hidayah ini adalah fitrah yang Allah SWT berikan kepada semua makhluk ciptan-Nya. Contohnya, Allah SWT memberikan hidayah ilhami kepada lebah yang suka hinggap di bunga untuk mengambil saripatinya, dapat membangun sarang yang menurut para ahli adalah desain yang paling sempurna berdasarkan fungsinya. Seorang bayi yang lapar diberi hidayah ilhami oleh Allah SWT untuk menangis dan merengek-rengek pada ibunya agar diberi ASI. Siapakah yang mengajari lebah dan bayi tadi untuk melakukan hal tersebut? Tentunya kita yang beriman kepada Allah SWT akan menjawab: itulah kekuasaan Allah SWT yang telah memberikan hidayah ilhami kepada makhluk-Nya. Semua makhluk yang diciptakan Allah SWT akan menerima hidayah ini. Dalam bahasa kita, hidayah ilhami ini adalah insting, yang merupakan tingkat inteligensi paling rendah.

Kedua, hidayah hawasi. Hidayah hawasi adalah hidayah yang membuat makhluk Allah SWT mampu merespon suatu peristiwa dengan respon yang sesuai. Contohnya adalah, ketika manusia mendapatkan kebahagiaan maka ia akan senang dan jika mendapatkan musibah maka ia akan sedih. Dalam istilah kita, hidayah hawasi ini adalah kemampuan inderawi.

Hidayah hawasi sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Maka respon yang ditimbulkan dari sebuah peristiwa sangat tergantung dengan lingkungan kita. Jika lingkungan itu normal maka respon kita akan normal. Misalnya, orang yang mendapatkan musibah akan sedih karena lingkungannya mengajarkan untuk merespon peristiwa tersebut dengan bersedih. Di lain tempat dan waktu mungkin saja respon ini berubah karena lingkungannya merespon dengan hal yang berbeda. Maka untuk mendapatkan hidayah hawasi ini kita harus membuat atau mengondisikan agar lingkungan kita normal alamiah.

Ketiga, hidayah aqli (akal). Hidayah akal adalah hidayah yang diberikan khusus pada manusia yang membuatnya bisa berfikir untuk menemukan ilmu dan sekaligus merespon peristiwa dalam kehidupannya dengan respon yang bermanfaat bagi dirinya. Hidayah akal akan bisa kita miliki manakala kita selalu mengambil pelajaran dari segala sesuatu, segala peristiwa, dan seluruh pengalaman hidup kita ataupun orang lain. Allah SWT berfirman:

“Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; Maka Allah mendatangkan bagi mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) sebagai pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai wawasan”. (QS. Al-Hasyr [59]: 2).

Yang dimaksud dengan ahli Kitab dalam ayat ini ialah orang-orang Yahudi Bani Nadhir pada masa Nabi Muhammad SAW di Madinah. Merekalah yang mula-mula dikumpulkan untuk diusir keluar dari Madinah karena mereka mengingkari Piagam Madinah.

Ayat ini memerintahkan kita untuk senantiasa mengambil hikmah dan ‘ibroh dari segala kejadian dalam kehidupan ini, dengan harapan kita tidak terjebak pada permasalahan yang sama. Hidayah akal ini akan bekerja dengan ilmu yang diperoleh, dari proses pembelajaran kehidupan yang telah dilakukan, yang kemudian digunakan untuk memilih respon yang terbaik bagi diri di masa mendatang. Semakin banyak kita mengambil pelajaran maka semakin tinggi kualitas hidayah akal kita.

Namun Hidayah akal ini mempunyai keterbatasan dalam menyeragamkan respon terhadap sebuah kejadian untuk seluruh manusia. Ada pepatah “lain ladang, lain pula belalangnya. Lain kepala, lain pula isinya.” Mungkin respon tertentu baik menurut kita, akan tetapi belum tentu baik menurut orang lain. Maka diperlukan sebuah standar untuk menyeragamkan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang hak dan mana yang batil. Jawaban untuk hal ini ada pada tingkatan hidayah selanjutnya.

Keempat, hidayah dien (agama). Hidayah agama adalah sebuah panduan ilahiyah yang membuat manusia mampu membedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang baik dan yang buruk. Hidayah agama ini merupakan standard operating procedure (SOP) untuk menjalani kehidupan. Tentunya yang membuatnya adalah yang Maha segala-galanya, yang menciptakan manusia itu sendiri, yaitu Allah SWT. Karena yang Allah SWT tentukan, pastilah itu yang terbaik. Allah SWT berfirman :

”…. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216).

Maka apa saja yang ditentukan oleh agama, pastilah itu yang terbaik untuk kita. Hidayah agama ini bisa kita peroleh manakala kita selalu belajar dan memperdalan agama Islam ini.

Seperti Allah SWT tegaskan dalam Alqur’an:

”Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (Dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Ali Imran [3]: 79).

Semua orang mampu mempelajari agama ini (Al Qur’an dan As Sunnah), akan tetapi tidak semua orang berkemauan untuk mengamalkan agama ini. Kemauan untuk mengamalkan agama akan berbanding lurus dengan sejauh mana kita bisa manggapai hidayah taufiq.

Kelima, hidayah taufiq. Hidayah taufiq adalah adalah hidayah yang membuat manusia hanya akan menjadikan agama sebagai panduan hidup dalam menjalani kehidupannya. Hidayah taufiq ibarat benih yang Allah SWT semaikan di hati yang tidak hanya bersih dari segala hama penyakit, tetapi juga subur dengan tetesan robbani. Bersih dan suburnya hati akan terlihat dari pohon-pohon kebaikan dan amal yang tumbuh di atasnya. Hanya kesungguhan yang akan membuat kita pantas menerima hidayah taufiq dari Allah SWT. Firman Allah SWT :

”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabuut [29]: 69).

Maka tidak ada jalan lain agar kita mendapatkan Hidayah Taufiq Allah SWT, kecuali dengan jalan bersungguh-sungguh dan berjihad untuk menjalankan dan mengamalkan agama yang indah ini.

Penutup

Hidayah Allah SWT memerlukan perjuangan untuk mendapatkannya. Semakin besar perjuangan dan kesungguhan kita, maka insya Allah kita akan semakin mudah mendapatkannya, karena semuanya tergantung kepada usaha kita. Hidayah Allah SWT ibarat sinar matahari yang menyinari seluruh alam ini, dan kita adalah penerima sinar tersebut. Jika kita membuka diri dengan hati yang bersih maka kita akan mudah untuk mendapatkan sinar hidayah Allah SWT. Tapi jika kita menutupi hati dan diri kita dengan kotoran dan hama penyakit hati maka kita akan sulit untuk mendapatkan sinar hidayah-Nya.

Wallahu a’lam.

Selengkapnya...

Sabtu, 07 Februari 2009

BAGAIMANA MENJADIKAN KHUSYU' ITU MUDAH

Hampir semua umat beragama mencari atau berlomba-lomba mencari kekhusyuan dalam ibadahnya, bahkan bila mungkin juga khusyu dalam kehidupannya, namun apa dan dimana serta bagaimanakah khusyu itu sebenarnya, banyak orang berusaha menggenjot konsentrasi dalam ibadahnya, ada juga yang berusaha menyatu dengan alam agar mendapatkan apa yang dinamakan khusyu tersebut, namun kenyataannya apa yang terjadi, mengapa sang khusyu tiada kunjung tiba, sehingga orang akhirnya ada yang merasa frustasi karena tidak pernah berhasil mencapainya, tentu saja akibat dari rasa frustasi ini akan sulit diperkirakan akibatnya.

Benarkah hingga sedemikian sulitnya untuk mendapatkan apa yang dinamakan khusyu tersebut?, ataukah disebabkan oleh ketidak tahuan bahwa sebenarnya khusyu adalah hadiah, sehingga tidak akan didapatkan dengan cara memaksakan, melainkan harus ditunggu kedatangannya dengan sabar, syukur, berserah diri serta tertib.

Jika khusyu adalah hadiah, mengapa ada sebagian orang yang menggenjot konsentrasi dengan cara-cara shalat panjang ataupun dengan berdzikir panjang ternyata dapat juga mencapai khusyu, walaupun dengan pengorbanan yang besar baik itu dari segi waktu maupun tenaga, sekiranya untuk mendapatkan khusyu haruslah sedemikian besar pengorbanannya, tentu akan sulitlah bagi orang-orang biasa yang mempunyai kesibukan keseharian yang cukup banyak, sedangkan khusyu itu sendiri adalah hak bagi semua orang.

Bagi mereka yang berkeluangan waktu dan tenaga, mereka dapat melakukan pengkonsentrasian dengan melakukan shalat taupun dzikir panjang, sehingga dengan terkurasnya tenaga hingga habis maka tanpa terasa mereka telah bersih diri, sabar serta berserah diri, sehingga khusyu bisa didapatkan walaupun mereka hanya mendapatkan khusyu ibadah dan bukan khusyu kehidupan.

Sedangkan mereka yang berusaha menyatu dengan alam, mereka merasakan mendapatkan ketenangan jiwa yang mereka anggap kekhusyuan walaupun sebenarnya adalah bukan, semua itu dikarenakan menyatu dengan alam adalah menyatukan jiwa dengan bumi, ataupun sejauh-jauhnya menyatukan jiwa dengan alam semesta, yang kedua-duanya masih termasuk hitungan dunia, sedangkan khusyu kaitannya adalah dengan akhirat, kesalahan-kesalahan tersebut memang umum terjadi, tentu saja penyebabnya adalah kesulitan dalam membedakan yang mana mata bathin dengan yang mana mata terbuka hijab ghaib, mata terbuka hijab ghaib adalah mata yang dapat melihat mahluk ghaib, tentu saja yang terlihat bukanlah yang Maha Ghaib, ataupun akhirat yang jauh diluar alam semesta, sedangkan mata bathin tentu saja tidak melihat melalui kedua matanya itu, karena pada saat mata bathin terbuka, semua panca indera tetap berfungsi seperti biasanya dan tidaklah seperti orang yang kehilangan kesadarannya.

Sekarang pertanyaannya adalah, jadi dapatkah dan atau bagaimanakah kita sebagai orang-orang biasa saja dapat mencapai apa yang dinamakan khusyu beribadah, bahkan khusyu dalam kehidupan, jawabannya tentu saja dapat, sedangkan masalah bagaimananya, kita harus menelaah lebih dahulu dasar-dasar pendukung pemberian hadiah khusyu itu sendiri, pada dasarnya islam adalah pola hidup yang harus di dukung oleh kesadaran yang setinggi-tingginya, oleh karena itulah maka umat islam diwajibkan melaksanakan shalat lima waktu sebagai pembentukan pola beribadah, yang harus dilakukan dengan kesadaran sepenuhnya, sehingga sangat tidak disarankan kita shalat sambil menutup mata, bahkan pergerakannya pun haruslah dilakukan dengan setertib-tertibnya agar lisan maupun pergerakan shalat itu senantiasa tetap terjaga niat, arti serta tujuannya, tidak menjadi susut dimakan lalai karena sudah terbiasa atau begitu rutinnya, karena segala sesuatu perbuatan manusia itu, yang pertama-tama di lihat adalah niatnya, seperti yang sudah umum kita lihat dalam keseharian, bagaimana salam yang begitu sering di ucapkan menjadi berubah fungsi dan artinya menjadi say halo saja, padahal saling memberi salam itu sebenarnya adalah saling mendo'a kan, sehingga niat bersalam itu niat mendo'akan orang, tujuannya adalah agar orang yang dido'akan tersebut selamat dunia akherat, mendapat rahmat serta berkah dari Allah, hukumnya bagi orang yang mendo'akan akan mendapat yang sama, tanpa mengurangi sedikitpun dari orang yang dido'akannya, adapun dalam kehidupan keseharian kita di ajarkan untuk membaca Basmallah setiap kali hendak melakukan sesuatu, serta do'a-do'a harian yang dapat menjadi pagar kehidupan kita, asalkan semuanya itu dilakukan dengan selalu menyadari sepenuhnya akan niat, maksud serta tujuan setiap segala sesuatu yang kita lakukan.

Oleh karena itu, dalam melaksanakan shalat usahakanlah senantiasa melaksanakannya penuh dengan kesadaran serta ketertiban, tertib dalam setiap gerakan serta lisan, tidak kehilangan niat, maksud, tujuan serta melakukannya hanya karena Allah, demikian pula dalam melaksanakan kehidupan keseharian kita, lakukanlah semua karena Allah serta jelas niat, maksud, tujuannya, jadikanlah segala sesuatu dalam kehidupan kita menjadikan kita mengingat Allah, mengejar pahala karena di suruh Allah melalui rosulnya, menghindari dosa karena dilarang Allah melalui rosulnya, berdo'a meminta kepada Allah yang maha kaya serta maha pengasih lagi penyayang kata rosulnya, Basmallah menempatkan Allah menemani serta mengawasi kita begitulah yang disampaikan rosul Allah tentang keseharian, ingatlah bahwa mengingat Allah dan rosulnya akan senantiasa memperkuat Syahadat kita, sedangkan pola hidup islami akan membuat kita otomatis berdzikir mengingat Allah pada saat berdiri, duduk dan tidur.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dengan melakukan ibadah yang penuh dengan kesadaran dan ketertiban, ditambah hidup dengan pola islami, tawadhu, sabar serta pandai bersyukur dan senantiasa berprasangka baik pada Allah, istiqomah dalam menjalankan semua itu, InsyaAllah hadiah khusyu dalam beribadah maupun khusyu dalam keseharian yang didambakan akan kita didapatkan, aamiin.

Ciri-ciri khusyu, bila kita mendapatkannya adalah terbukanya mata bathin kita, yang dapat dirasakan sebagai rasa haru yang sangat, apabila kita sedang mengingat Allah, akhirat, surga, Rasulullah, dosa-dosa yang telah lalu serta lain-lain hal yang berkaitan dengan ruhani kita, rasa haru tersebut membuat kita merasa hati tergores rindu, menetes airmata, banjir airmata bahkan bisa sampai menangis tersedu-sedu.

Sebagai catatan tambahan, dalam keseharian kita di jalanan baik dalam berkendaraan maupun berjalan kaki, seringkali tanpa disadari kita menghancurkan pola hidup islami kita dengan menghinakan diri menjadi preman bahkan menjadi perampok, yang merampas atau merampok hak orang lain dengan memotong, memepet, mengambil jalan orang lain, menghalangi, menyebrang dengan berlambat-lambat, saling memaki atau mengumpat serta lain-lain perangai tidak terpuji yang kita lakukan, perlu kita sadari bahwa semua orang ingin cepat sampai ke tujuan dengan tenang, tentram dan aman di jalan, menjalin dan menjaga silaturahmi sangatlah di sarankan bagi orang islam.



BAGAIMANA MENJADIKAN KHUSYU' ITU MUDAH : DOWNLOAD DISINI "VERSI LENGKAP" Selengkapnya...

Kamis, 05 Februari 2009

KEDUDUKAN ILMU TASAWUF

Mengikut pandangan al-Imam al-Syeikh 'Abd al-Wahhab al-Sya'raniy di dalam kitab al-Anwar al-Qudsiyyah, tasawuf adalah:"beramal dengan ilmu syariat dengan ikhlas dan tulus. Kalau engkau melihat kepada ulama tasawuf di zaman silam yang mengasaskannya, mereka semuanya adalah ulama yang beramal dengan ilmu mereka dan juga merupakan para pendakwah yang mengikut al-Quran dan al-Sunnah sebab itu terpancar cahaya mereka dan kesan mereka berterusan sampai ke hari ini.

Jadi tasawuf adalah mempelajari fardu ain kemudian beramal dengan ilmu tersebut untuk mendapatkan ketulusan dan keikhlasan dengan memohon bantuan Allah dan berterusan mengingati Allah dengan berzikir dan beribadah untuk membersih ruh dan menyucikan jiwa serta mengubati hati yang sakit.

Tidak dinamakan tasawuf kalau tidak berilmu, dan ilmu tidak akan bermanfaat kalau tidak disertakan amalan. Sesiapa yang mengatakan tasawuf itu tanpa ilmu dan tanpa amal maka itu bukanlah tasawuf.Untuk menjelaskan lagi tentang hakikat tasawuf, di sini akan diterangkan pandangan ulama dan para solehin tentang tasawuf:

1. Imam Ahl al-Sunnah al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata kepada anaknya Abdullah:" Wahai anakku, hendaklah engkau menghadiri majli orang-orang tasawuf kerana mereka akan membuatkan engkau memiliki banyak ilmu, kuat muraqabah, selalu takutkan Allah, zuhud dan tinngi keazaman". Beliau juga pernah berkata:" Aku tidak mengenali orang yang lebih baik daripada mereka".

2. Imam al-Ghazali berkata:" Aku mengetahui dengan yakin bahawa orang-orang tasawuf berjalan menuju Allah, dan perjalanan mereka adalah sebaik-baik perjalanan dan jalan mereka adalah jalan yang paling benar danmereka memiliki akhlak yang amat tinggi.

3. Al-'Izz bin 'abd al-Salam berkata:"Golongan sufi adalah golongan yang betul-betul mengikuti syariat dan mereka tidak akan merosakkan dunia dan akhirat, sementara orang lain hanya hebat luaran sahaja".

4. Imam Malik berkata:"Sesiapa yang berfekah dan tidak bertasawuf maka dia telah fasiq dan sesiapa betasawuf dan tidak berfekah maka dia telah zindiq, dan sesiapa yang mengambil kedua-duanya maka dia telah menepati kehendak Allah".

5. Imam Syafie berkata:"Di dunia ini aku suka tiga perkara;pertama:Meninggalkan perkara remeh,kedua: Bergaul dengan makhluk dengan lemah lembut,ketiga: Mengikut jalan orang-orang tasawuf."

6. Mengikut pandangan Imam Sayuti, teras jalan tasawuf ada lima:
a. Bertaqwa zahir dan batin, ketika bersendiri dan di khalayak ramai.
b. Mengikut Sunnah pada perkataan dan perbuatan.
c. Menghindari percampuran dengan makhluk di dalam masalah yang tidak
berfaedah.
d. Reda dengan pemberian Allah samada banyak atau sikit.
e. Kembali kepada Allah ketika senang dan susah.

7. Imam Fakhr al-Din al-Razi:"Sesiapa yang mengkelasifikasikan manusia tanpa menyebut golongan tasawuf adalah salah, kerana mereka menyebut bahawa jalan menuju makrifah Allah ialah dengan menumpukan sepenuh perhatian dan dengan menyucikan jiwa daripada sebarang ikatan fizikal.Ini adalah jalan yang baik." Beliau juga pernah menyebut:"Kaum sufi adalah mereka yang sentiasa sibuk berfikir kebesaran Allah dan mengosongkan jiwa daripada ikatan jasmani, bersungguh-sungguh supaya dalaman dan fikiran mereka sentiasa berzikir ketika mereka bercakap dan bekerja, bersikap baik adab dengan Allah dan mereka adalah sebaik-baik makhluk.

8. Ibnu Taumiyyah:"...adapun orang-orang sufi yang lurus di kalangan mejoriti ulama salaf seperti Fudail bin 'Ayyad, Ibrahim Adham, Abu Sulaiman al-Darani,Ma'ruf al-Kharkhi,Sirri al-Siqti, al-Junaid bin Muhammad, Syeikh Abd Kadir al-Jailani, Syeikh Hammad, Syeikh Abu al-Bayan. Mereka tidak pernah menyarankan kepada murid agar keluar daripada suruhan dan larangan syariat sekalipun mereka boleh terbang dan berjalan di atas air.Bahkan menyarankan kepada murid agar terus berpegang dengan perintah Allah dan menjauhi laranganNya serta meninggalkan perkara2 keji sehingga mati.Ini adalah benar sepertimana yang ditunjukkan oleh al-Kitab dan al-Sunnah serta ijma' ulama.

9. Taj al-Din al-Subki:Allah telah memuliakan mereka, semoga Allah memasukkan kita bersama-sama mereka (Golongan sufi) ke dalam syurga.Sesungguhnya terlalu banyak ungkapan tidak benar tentang mereka akibat daripada kejahilan dan ramai yang menyamar sebagai sufi sepertimana yang telah diungkapkan oleh Syeikh Abu Muhammad al-Juwaini:"Tidak harus menghukum mereka kerana tidak ada ketentuan bagi mereka, yang pastinya mereka adalah suatu golongan yang menjauhkan diri daripada dunia semata-mata menumpukan perhatian kepada ibadah. Kesimpulannya mereka adalah Ahlillah dan hambanya istimewaNya yang mengharapkan rahmatNya daripada zikir mereka, memohon pertolongan dengan doa mereka. Moga-moga Allah meredai mereka dan kita semua.

10. Imam Syatibi:"Ramai di kalangan orang-orang jahil beriktikad bahawa golongan sufi dengan mudahnya mengikut dan beriltizam dengan apa yang tidak didatangkan oleh syara'.Moga Allah menjauhkan mereka daripada sekelian tersebut. Pertama sekali mereka membina jalan mereka dengan mengikut sunnah dan menjauhkan daripada perkara-perkara yang dilarang olehnya".

11. Ibnu Khaldun:"Ilmu ini adalah ilmu baru di dalam agama.Asalnya jalan mereka adalah jalan salaf al-saleh seperti para sahabat dan tabi'in dan orang-orang selepas mereka.Jalan ini adalah yang benar dan jalan petunjuk.Asalnya adalah jalan ibadah dan memutuskan diri daripada kemewahan dunia dan perhiasannya kerana menumpukan ibadah kepada Allah dan zuhud daripada apa yang sentiasa dikejar oleh kebanyakan orang ramai seperti cinta dunia, pangkat dan darajat, menyendiri di dalam khalwah untuk beribadah, perkara ini sudah menjadi kebiasaan kepada para sahabat dan salaf.Setelah manusia berbondong-bondong mengejar dunia bermuala pada kurun ke dua, maka mereka(sufi) diberi gelaran sufiyyah.

12. Abu Hassan Ali al-Nadawi:"Sesungguhnya ahli sufi mengambil bai'ah agar manusia mentauhidkan Allah, ikhlas dan mengikut sunnah, bertaubat daripada semua dosa-dosa, taat kepada Allah dan Rasulullah s.a.w.,menjauhkan diri daripada perkara keji,mungkar,buruk akhlak, zalim dan kasar.Mereka gemar menghiasi diri mereka dengan akhlak mulia dan membuang sifat keji seperti ego, hasad, saling membenci, zalim dan cinta pangkat kedudukan. Mereka(sufi) membersihkan jiwa manusia dengan tarbiah dan mengajar mereka zikrullah, memberi nasihat, bersifat memadai dengan pemberian Allah dan berkorban. Yang lebih tinggi pada baiah adalah lambang hubungan kukuh di antara mursyid dan murid.Mereka selalu memberi peringatan kepada manusia dan cuba meniup bara cinta Allah di dalam hati manusia, rindu kepada keredaanNya dan amat suka memperbaiki diri serta mengubah hal mereka di sisi Allah.


Selengkapnya...

PAHALA SHALAT SUBUH MENGALAHI KEINDAHAN DUNIA

RASULULLAH SAW bersabda maksudnya: "Sesiapa yang menunaikan solat Subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah SWT. Kerana itu, janganlah kamu mencari jaminan Allah SWT dengan sesuatu (selain daripada solat), yang pada waktu kamu mendapatkannya, lebih-lebih lagi ditakuti kamu tergelincir ke dalam api neraka." (Hadis riwayat Muslim)Muhammad Abdur Rauf al-Munawi dalam kitabnya at-Ta'arif menegaskan, as-Subhu atau as-Sabah adalah permulaan siang hari, iaitu ketika ufuk berwarna merah jingga di langit tertutup oleh tabir matahari.

Adapun solat Subuh ibadat yang dilaksanakan ketika fajar siddiq dan berakhir pada waktu matahari terbit.Solat Subuh memiliki banyak daya tarikan kerana kedudukannya dalam Islam dan nilainya yang tinggi dalam syariat. Banyak hadis mendorong untuk melaksanakan solat Subuh serta menyanjung mereka yang menjaga dan mengerjakannya.

Rasulullah SAW mengetahui waktu Subuh adalah waktu yang sangat sulit dan payah untuk bangun dari tidur. Seorang Muslim bila dibiarkan begitu saja (tertidur), akan memilih untuk merehatkan dirinya sampai terjaga hingga terbit matahari dan meninggalkan solat Subuh, atau 'Subuh gajah', iaitu dikerjakan solat Subuh tidak pada waktunya yang betul.

Rasulullah SAW mengkhususkan solat subuh dengan beberapa keistimewaan tunggal dan sifat tertentu yang tidak ada pada solat lain. Banyak keutamaan dan kelebihan yang didapati di waktu subuh.

Salah satu keutamaannya adalah Rasulullah SAW mendoakan umatnya yang bergegas dalam melaksanakan solat Subuh, sebagaimana disebutkan dalam hadis: "Ya Allah, berkatilah umatku selama mereka suka bangun subuh (iaitu mengerjakannya) ." (Hadis riwayat Termizi, Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Majah)Jika Rasulullah SAW yang berdoa, maka tidak ada hijab di antara Baginda dengan Allah SWT kerana Baginda sendiri adalah orang yang secara jasadiyah paling dekat dengan Allah SWT.Waktu Subuh adalah waktu yang paling baik untuk mendapatkan rahmat dan keredaan Allah SWT.

Allah SWT berfirman maksudnya: "Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keredaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling daripada mereka kerana mengharapkan perhiasan duniawi, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya sudah Kami lalaikan daripada mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melampaui batas." (Surah al-Kahfi, ayat 28)

Keutamaan solat Subuh diberikan ganjaran pahala melebihi keindahan dunia dan seisinya, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam at-Termizi: "Dari Aisyah telah bersabda Rasulullah SAW, dua rakaat solat Fajar pahalanya lebih indah daripada dunia dan seisinya."Begitulah keistimewaan solat Subuh. Apakah yang menghalang kita untuk menyingkap selimut dan mengakhiri tidur untuk melakukan solat Subuh?

Bukankah solat Subuh menjadi bahagian yang begitu besar kemuliaannya dibandingkan dunia dan seisinya?Diriwayatk an Muslim daripada Usman bin Affan berkata, Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya:"Barang siapa yang solat Isyak berjemaah maka seolah-olah dia telah solat setengah malam, barang siapa solat Subuh berjemaah, maka seolah-olah dia telah melaksanakan solat malam satu malam penuh." (Hadis riwayat Muslim).

Solat Subuh adalah sumber daripada segala cahaya di hari kiamat. Di hari itu, semua sumber cahaya di dunia akan padam. Matahari akan digulung, ibadat yang akan menerangi pelakunya.Diriwayat kan daripada Abu Musa al-Asyaari, dia berkata Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya: "Barang siapa yang solat dua waktu yang dingin, maka akan masuk syurga." (Hadis riwayat Bukhari). Dua waktu yang dingin itu adalah solat Subuh dan Asar.Mereka yang menjaga solat Subuh dan Asar dijanjikan kelak di syurga akan melihat Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Kami sedang duduk bersama Rasulullah SAW, ketika melihat bulan purnama. Baginda berkata, "Sungguh kamu akan melihat Rabb (Allah), sebagaimana kamu melihat bulan yang tidak terhalang dalam memandangnya. Apabila kamu mampu, janganlah kamu menyerah dalam melakukan solat sebelum terbit matahari dan solat sebelum terbenam matahari. Maka lakukanlah." (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Rasulullah SAW memberi janji, apabila solat Subuh dikerjakan, maka Allah akan melindungi siapa saja yang mengerjakannya seharian penuh. Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya: "Barang siapa yang menunaikan solat Subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah. Maka janganlah cuba-cuba membuat Allah membuktikan janji-Nya. Barang siapa yang membunuh orang yang menunaikan solat Subuh, Allah SWT akan menuntutnya, sehingga Allah SWT akan membenamkan mukanya ke dalam neraka." (Hadis riwayat Muslim, at-Termizi dan Ibn Majah)Semoga kita tetap menjaga dan memelihara solat Subuh seperti dijanjikan Allah. Bergegas bangun tidur apabila terdengar laungan azan berkumandang untuk segera mengerjakan solat Subuh.


Selengkapnya...

AL-QUR'AN BERI INSPIRASI BERFIKIR

Penulis asal: Mohd Zawawi Yusoh

AL-QURAN sepatutnya mendapat layanan istimewa daripada umat Islam. Layanan itu bukan hanya membabitkan cara mengambil, meletak dan membacanya, malah yang lebih ialah kandungannya dan menghayati suruhan dan menjauhi larangannya.
Menurut Ibnu Qayyim, suasana inilah yang melonjakkan generasi terdahulu ke paras tertinggi dalam indeks kecemerlangan.

Kecemerlangan yang digapai bukan dalam satu bidang tertentu, malah pelbagai bidang. Dukacita generasi ini sudah lama meninggalkan kita.
Walaupun mereka tiada lagi, sejarah mereka tetap utuh, bahkan masih segar jika dipelajari.
Mereka membaca al-Quran bukan hanya untuk panduan hukum agama, malah menjadikan sebagai panduan cara kehidupan, membabitkan kesempurnaan fardu ain dan fardu kifayah.

Cuba lihat apabila mereka baca ayat al-Quran mengenai aurat, mereka bukan berlumba-lumba membeli kain di gedung untuk menutup aurat tetapi mereka berfikir lebih jauh dari itu, iaitu mereka berfikir cara untuk mencipta pakaian, membina kilang pakaian serta merancang untuk menguasai pasaran pakaian dan fesyen.

Begitu juga apabila mereka membaca ayat mengenai kebersihan, mereka bukan saja membersihkan najis tetapi mencari idea untuk meneroka teknologi, malah menceburi dalam import eksport barang terbabit.
Di sebalik kepintaran itu, mereka adalah generasi berakhlak tinggi. Begitulah al-Quran memberikan inspirasi berfikir dan berzikir.

Sewajarnya remaja mencontohi kecemerlangan itu, mendekati al-Quran untuk mempertajamkan minda dan memperkuatkan peribadi. (Bagaimana mendekati Al-Quran?)
Caranya dengan membaca al-Quran, selalu mendengar bacaan ayat suci al-Quran, memahami kandungan, menjadikannya sebagai penawar mujarab menyelesaikan masalah sosial dan seterusnya menjadikan ia sumber hukum.
Masalah remaja bermula apabila kita mengambil sikap memulaukan al-Quran, iaitu tidak membacanya. Jika dulu, waktu Maghrib kedengaran bacaan al-Quran, sayup-sayup dari rumah tetapi kini yang kedengaran di televisyen dan radio.
Jika dibaca pun banyak kesalahannya, tidak cuba memahami apa yang dibaca, tidak menjadikannya sebagai panduan untuk merawat penyakit masyarakat dan kemanusiaan. Jika ada pun dijadikan untuk hantaran perkahwinan.

Ketika empayar Rom dan Parsi jatuh ke tangan orang Islam, pemimpin Rom berbicara sesama sendiri dengan penuh kekaguman mengenai tentera Islam.
Antara komen mereka ialah orang Islam suka bersolat pada malam hari dan berpuasa pada siang hari, menepati janji, menyeru orang melakukan kebaikan, melarang daripada kejahatan dan membahagikan harta rampasan perang sama banyak antara mereka.
Umat Islam berada di zon kecemerlangan kerana ditempa dan dibentuk al-Quran. Melihatkan kepada suasana semasa nampak sangat kita berada di satu lembah dan al-Quran berada di tempat lain.

Prestasi makin jauh dari al-Quran ini akan mencetuskan seribu satu macam onar dalam masyarakat. Kepada remaja, dengarlah al-Quran, selalulah membaca, cuba fahami isinya, akan datang penghayatan dan akhirnya terserlahlah al-Quran dalam bentuk tindakan, lalu berulang kembali generasi al-Quran. Wassalam


Selengkapnya...